x

Jejak Khidmah Totalitas KH. Hasyim Mino: Menanam Adab, Menuai Derajat Tinggi

waktu baca 3 menit
Rabu, 6 Mei 2026 00:36 0 32 Redaksi Satu

KH. Hasyim Mino

Probolinggo, kabarbromo66.com – Di kalangan santri dan masyarakat Probolinggo, nama KH. Hasyim Mino bukan sekadar figur pendiri Pondok Pesantren Nurul Qodim Kalikajar Kulon. Beliau adalah personifikasi hidup dari konsep Khidmah (pengabdian) dan Takdim (penghormatan) mutlak seorang murid kepada gurunya.

​Menjelang peringatan Haul ke-39 yang jatuh pada Rabu, 6 Mei 2026 (18 Dzulqo’dah 1447 H), kisah heroik spiritual Kiai Mino kembali menjadi perbincangan hangat sebagai oase di tengah krisis adab zaman modern.

Pantangan Mengucap “Tidak” pada Guru

​Kiai Ahmad Sibaweh, salah satu alumni senior Nurul Qodim, mengungkap rahasia kealiman Kiai Mino yang meski hanya nyantri selama empat tahun di Pesantren Zainul Hasan Genggong, namun memiliki pancaran ilmu yang luar biasa.

​”Kuncinya adalah pengabdian yang melampaui batas logika. Selama di Genggong, Kiai Mino tak pernah sekalipun mengucapkan kata ‘boten’ (tidak) setiap kali diperintah oleh gurunya, KH. Moh. Hasan Genggong (Kiai Sepuh),” kenang Kiai Sibaweh.

​Bagi Kiai Mino, perintah guru adalah mandat suci, bahkan jika kemampuan fisiknya saat itu terbatas. Beliau lebih memilih berupaya keras daripada menolak titah sang murobbi.

Melampaui Ekspektasi: Kisah Tebang Pohon Mangga

​Satu fragmen sejarah yang paling melekat adalah saat Kiai Sepuh memintanya mencari tukang tebang pohon untuk merapikan pohon mangga yang doyong. Bukannya mencari orang lain, Kiai Mino justru memanggul kapak dan menyelesaikannya sendiri.

​Motivasinya sederhana namun dalam: beliau tidak ingin gurunya terbebani mengeluarkan upah. Tidak hanya menebang, beliau membersihkan area tersebut hingga ke akarnya dan membelah kayu-kayu tersebut untuk stok dapur kiai.

​Ketulusan luar biasa ini membuahkan bisyaroh (kabar gembira). Konon, Kiai Sepuh memegang pundak Kiai Mino seraya berujar dalam bahasa Madura: “Derejet dikah, No” (Derajatmu tinggi, Mino). Ucapan seorang kekasih Allah yang kini terbukti dengan berkembang pesatnya Pesantren Nurul Qodim.

Istiqamah Jalan Kaki Demi Salat Jumat

​Keteladanan Kiai Mino tidak berhenti setelah beliau lulus. Pengabdiannya bersifat seumur hidup. Selama delapan tahun pertama menetap di Paiton, beliau rutin berjalan kaki bersama istrinya menuju Genggong hanya untuk menunaikan Salat Jumat di masjid gurunya.

​Jarak yang jauh dan peluh yang menetes dianggap sebagai perjalanan cinta seorang murid. Kesetiaan ini terus dijaga bahkan ketika santri mulai berdatangan ke rumahnya di Kalikajar, di mana beliau dan istri berbagi peran agar salah satu dari mereka tetap bisa hadir di hadapan masyayikh Genggong.

Filosofi “Kucing Guru”

​Kepada para santrinya, Kiai Mino menanamkan doktrin penghormatan yang sangat detail. Beliau sering berpesan:

“Benni hormat ka koceng, tape kocengah guru” (Bukan hormat kepada kucingnya, tapi karena itu adalah kucing milik guru).

​Prinsip ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang bernisbat kepada guru, baik itu keluarga, lingkungan, bahkan hewan peliharaan, harus dimuliakan.

​Haul ke-39 ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bagi generasi muda Nahdliyin bahwa keberkahan ilmu tidak melulu didapat dari bangku kelas, melainkan dari seberapa dalam adab dan khidmah yang ditanamkan kepada sang guru. (Redaksi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x