x

Santri Probolinggo Siap Gelar Aksi Damai, Desak Trans7 Minta Maaf atas Tayangan yang Dinilai Menyinggung Dunia Pesantren

waktu baca 2 menit
Sabtu, 18 Okt 2025 05:57 0 171 Redaksi Satu

PROBOLINGGO, kabarbromo66.com – Ribuan santri di Kabupaten Probolinggo dijadwalkan turun ke jalan pada Minggu, 19 Oktober 2025, dalam aksi damai menolak tayangan salah satu program di Trans7 yang dianggap melecehkan martabat pesantren dan para kiai.

Gerakan tersebut digalang oleh Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) Probolinggo, dengan dukungan sejumlah organisasi alumni pesantren, di antaranya HIMASAL (Himpunan Alumni Santri Lirboyo), TANASZAHA Genggong, Alumni Nurul Jadid Paiton, dan Alumni Nurul Kodim Kalikajar.

Aksi akan dimulai dari Lapangan Pajarakan dan berakhir di Gedung DPRD Kabupaten Probolinggo, sebagai bentuk penyampaian aspirasi kepada wakil rakyat dan publik luas.

Menurut rencana, peserta akan menyerukan tuntutan permintaan maaf terbuka dari pihak Trans7 dan pemilik jaringan tersebut, Chairul Tanjung, atas penayangan program Expose Unsensored yang dinilai mencederai nilai-nilai kesantrian dan pesantren.

Ketua HIMASAL, KH Mohammad Hasan Nauval, menegaskan bahwa aksi tersebut bukan bentuk kemarahan, melainkan ekspresi moral dari kalangan pesantren.

“Kami ingin menjaga marwah pesantren. Aksi ini damai, beradab, dan tidak boleh ditunggangi kepentingan apa pun. Kami hanya meminta keadilan moral agar lembaga penyiaran menghormati nilai-nilai agama,” ujarnya.

Selain menuntut permintaan maaf, peserta juga mendesak agar tim produksi dan pengisi acara tayangan itu diungkap ke publik untuk mempertanggungjawabkan isi siaran yang menimbulkan kegaduhan di kalangan santri.

Gelombang aksi serupa sebelumnya juga muncul di beberapa daerah lain di Jawa Timur, menandakan bahwa keresahan ini tidak bersifat lokal, melainkan menyangkut harga diri komunitas pesantren secara nasional.

FKPP menegaskan bahwa seluruh peserta telah diimbau untuk menjaga ketertiban dan menghindari provokasi selama aksi berlangsung.

“Santri punya tradisi damai dan santun. Itulah yang akan kami tunjukkan kepada masyarakat,” tambah KH Hasan.

Aksi tersebut menjadi simbol perlawanan moral terhadap konten televisi yang dinilai semakin jauh dari etika penyiaran dan kearifan lokal pesantren.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x