x

Gelombang Santri di Probolinggo: Ketika Tayangan Televisi Memantik Luka Kultural

waktu baca 3 menit
Minggu, 19 Okt 2025 09:44 0 119 Redaksi Satu

Foto: Dok.Kabarbromo66.com

 

Probolinggo, kabarbromo66.com – Suara lantang ribuan santri menggema di depan Gedung DPRD Kabupaten Probolinggo. Di bawah terik matahari, massa berpeci dan bersarung itu tidak hanya membawa poster dan spanduk, tapi juga membawa satu pesan besar: “Martabat pesantren tidak untuk dipermainkan”.

Aksi damai yang berlangsung sejak pagi hingga siang ini merupakan reaksi atas tayangan “Xpose Uncensored” yang disiarkan Trans7. Dalam salah satu segmennya, program tersebut menyinggung perilaku santri dengan narasi yang dianggap mengandung stereotip dan penghinaan simbolik terhadap tradisi pesantren.

Simbol Solidaritas Pesantren

Pesantren dikenal sebagai ruang moral dan spiritual masyarakat. Karena itu, ketika citra pesantren disudutkan, reaksi publiknya selalu kolektif. Di aksi ini, hadir tokoh-tokoh NU, Ansor, Pagar Nusa, hingga organisasi mahasiswa Islam seperti PMII dan HMI.

Menariknya, Bupati Mohammad Haris dan wakilnya Fahmi AHZ juga turun langsung. Dalam orasinya, ia menegaskan:

“Santri bukan obyek hiburan. Kami menuntut tanggung jawab media agar menghormati nilai-nilai yang hidup di masyarakat.”

Aparat keamanan dari TNI dan Polri berjaga rapat. Meski jumlah massa mencapai ribuan, aksi berlangsung tertib.

Gelombang Kritik untuk Dunia Penyiaran

Aksi ini menjadi cermin keresahan publik terhadap kualitas konten media. Para peserta aksi mendesak:

1. Permintaan maaf terbuka dari Trans7.

2. Evaluasi internal tim produksi dan penyiaran.

3. Sanksi dari KPI atas dugaan pelanggaran norma penyiaran.

Desakan serupa datang dari MUI Probolinggo, yang menilai tayangan tersebut melewati batas etika publik.

Media dan Batas Kebebasan

Bagi sebagian kalangan, kasus ini memperlihatkan rapuhnya batas antara kebebasan pers dan penghormatan terhadap nilai sosial. DPR RI bahkan telah meminta KPI meninjau kembali izin siar program tersebut.

Sementara para pengamat media menilai, insiden ini bukan hanya soal satu tayangan, tapi tentang krisis empati kultural di ruang redaksi. Banyak produser televisi dinilai lebih fokus pada rating daripada tanggung jawab sosial konten.

Pesan Moral dari Aksi Damai

Bagi para santri, aksi ini bukan sekadar amarah. Ini peringatan agar media tidak kehilangan ruh kearifan lokal. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, tetapi benteng nilai-nilai luhur yang membentuk wajah keislaman Indonesia, ramah, santun, dan berakar pada budaya.

Sebaliknya, bagi dunia media, momen ini menjadi refleksi: apakah kebebasan berekspresi masih berpijak pada kesadaran etika dan keberagaman bangsa?

Catatan Akhir

Dari balik pagar DPRD Probolinggo, gema takbir dan doa menggema. Ribuan santri telah membuktikan bahwa mereka mampu berdiri tegak, bukan dengan kekerasan, tapi dengan perlawanan moral.

Aksi hari ini bukan sekadar berita, tapi sinyal kuat bahwa martabat pesantren adalah garis merah, dan media seharusnya belajar kembali bagaimana menyentuh realitas dengan rasa hormat, bukan dengan sensasi. (*)

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x